Tampilkan postingan dengan label Perang di Amerika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perang di Amerika. Tampilkan semua postingan
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
,
Perang di Amerika
Krisis Rudal Kuba adalah sebuah krisis yang terjadi antara tahun 1962 yang terjadi sebagai akibat dari Perang Dingin yang terjadi antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Krisis ini terjadi setelah terungkap fakta bahwa Amerika Serikat telah mensponsori sebuah serangan ke Teluk Babi milik Kuba, sebuah negara komunis di Laut Karibia. Meskipun gagal, penyerbuan ini telah menimbulkan kemarahan Uni Soviet, sebagai pemimpin komunis dunia, maupun rakyat Kuba sendiri.
Pada bulan September 1962, Nikita Khruschev, Perdana Menteri Uni Soviet, menyatakan kepada Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy bahwa setiap serangan berikutnya terhadap Kuba akan dinilai sebagai tindakan perang. Tidak lama kemudian, Uni Soviet segera menempatkan rudal-rudal berukuran sedang yang dilengkapi dengan hulu ledak nuklir di Kuba. Rudal-rudal tersebut mengancam AS karena kemampuan merusaknya yang dapat menghancurkan sebuah kota besar dalam waktu singkat setelah diluncurkan. Pada tanggal 22 Oktober 1962, Kennedy muncul di muka publik dan menuntut Uni Soviet untuk menarik rudal-rudalnya atau AS akan menyerang Kuba. Maka, dimulailah minggu-minggu yang dikenal dengan sebutan Krisis Rudal Kuba ini.
Negosiasi di antara dua musuh bebuyutan ini terjadi dengan alot karena kedua belah pihak merasa siap untuk berperang dan tidak mau mengurangi tuntutannya. Kapal-kapal perang Amerika mengepung Kuba untuk memaksakan sebuah "karantina" terhadap semua pelayaran milik kuba; pesawat-pesawat pengebom mencari posisi di Florida dan bersiaga menghadapi serangan udara. Untungnya, pada tanggal 28 Oktober 1962, Khruschev menyatakan bahwa Uni Soviet bersedia memindahkan nuklirnya asalkan AS berjanji tidak akan menyerbu Kuba.
Sumber: http://www.eocommunity.com/showthread.php?tid=26653
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
,
Perang di Amerika
,
Perang di Asia
,
Perang di Eropa
,
Perang di Indonesia
Inilah daftar orang terkejam di dunia yang tidak mempunya keprikemanusiaan dan prikeadilan,bahwa mereka merencanakan sesuatu demi kepribadian sendiri dan tanpa mengetahui nasib orang lain. Inilah lanjutan dari daftar penjahat terkejam itu sebagai berikut ini:
6. Benito Mussolini
Benito Amilcare Andrea Mussolini (29 Juli 1883 – 28 April 1945) adalah seorang diktator Italia yang menganut Fasis. Ia adalah diktator Italia pada periode 1922-1943. Ia dipaksa mundur dari jabatan Perdana Menteri Italia pada 28 Juli 1943 setelah serangkaian kekalahan Italia di Afrika. Setelah ditangkap, ia diisolasi. Dua tahun kemudian, ia dieksekusi di Como, Italia utara. Mussolini mengakhiri sebuah dekade seperti di Jerman yang dilakukan diktator Adolf Hitler dengan Nazi-nya.
Kehidupan Awal
Mussolini lahir di Predappio, Forlì (Emilia-Romagna). Ayahnya Alessandro seorang pandai besi dan ibunya Rosa seorang guru sekolah. Seperti ayahnya, ia menjadi seorang sosialis berat. Tahun 1902 ia beremigrasi ke Swiss. Karena sulit mencari pekerjaan tetap, akhirnya ia pindah ke Italia. Pada 1908 ia bergabung dengan surat kabar Austria di kota Trento.
Keluar dari situ, ia jadi editor sebuah koran sosialis la Lotta di Class (Pertentangan Kelas). Di sini antusiasmenya pada Karl Heinrich Marx makin besar. Tahun 1910, ia menjabat sekretaris partai sosialis tingkat daerah di Forlì dan kepribadiannya berkembang menjadi antipatriot. Ketika Italia menyatakan perang dengan Kerajaan Ottoman tahun 1911, ia dipenjara karena propaganda perdamaiannya. Ini bertentangan dengan kinerjanya kemudian.
Setelah ditunjuk jadi editor koran sosialis Avanti, ia pindah ke Milan, tempatnya membangun dirinya sebagai kekuatan berpangaruh atas para pemimpin buruh sosialis Italia. Ia percaya, para proletar bisa dibuhul dalam gerakan fascio. Agaknya inilah cikal bakal gerakan fasis, yang lahir di saat perekonomian Italia memburuk akibat perang, dan pengangguran merebak di mana-mana. Pada Maret 1919, fasisme menjadi suatu gerakan politik ketika ia membentuk Kelompok untuk Bertempur yang dikenal sebagai baju hitam, yakni kumpulan penjahat, kriminal, dan preman yang bertindak sebagai tukang pukul para cukong. Penampilan mereka seram dan tiap hari terlibat perkelahian di jalan-jalan.
Setelah gagal pada Pemilu 1919, ia mengembangkan paham kelompoknya, sehingga mulai mendapat pengaruh. Mereka, kaum fasis, menolak parlemen dan mengedepankan kekerasan fisik. Anarki pecah di mana-mana. Pemerintah liberal tak berdaya menghadapinya. Ia membawa 'geng'nya, sejumlah besar kaum fasis yang bertampang sangar, untuk melakukan Berbaris ke Roma.Melihat rombongan preman berwajah angker memasuki Roma, Raja Vittorio Emanuele III menciut jeri. Mussolini diundang ke istana lalu diberi posisi sang Pemimpin. Pada Oktober 1922, Raja memintanya membentuk pemerintahan baru. Jadilah Italia dikelola pemerintahan fasis.
Gebrakan pertamanya setelah memegang kekuasaan, adalah menyerang Ethiopia dengan merujuk pada pandangan rasis Charles Robert Darwin, 'Ethiopia bangsa kelas rendah, karena termasuk kulit hitam. Jika diperintah oleh ras unggul seperti Italia, itu sudah merupakan akibat alamiah dari evolusi.' Bahkan ia bersikeras bahwa bangsa-bangsa berevolusi melalui peperangan. Sehingga jadilah Italia waktu itu bangsa yang ditakuti sepak terjangnya.
Yang meresahkan, ketika ia menduduki Abbesinia tahun 1937, kontan dunia tersentak. Teman akrabnya di Eropa adalah Adolf Hitler, dan mereka membuat aliansi, yang menyeret Italia ke dalam Perang Dunia II di pihak Jerman pada 1940. Namun, pasukannya kalah di Yunani dan Afrika, dan Italia sendiri diserbu oleh pasukan Britania Raya dan Amerika Serikat pada 1943. Pada saat itu Mussolini telah diturunkan dari takhtanya dan ditahan. Pasukan payung Jerman membebaskan dan mengembalikannya berkuasa di Italia Utara. Akhir riwayatnya tiba tak lama kemudian. Ketika akhirnya Italia dikalahkan, ia ditembak oleh musuh Italianya dan mayatnya digantung terbalik di Piazza Loreto di Milan.
7. Pol Pot
Saloth Sar (19 Mei 1925 – 15 April 1998), lebih dikenal sebagai Pol Pot, adalah pemimpin Khmer Merah dan Perdana Menteri Kamboja dari 1976 hingga 1979. Pemerintahannya banyak disalahkan untuk kematian sekitar dua juta warga Kamboja, meski perkiraan jumlahnya beragam.
Kamboja Demokratis
Pada awal 1976 pihak Khmer Merah menahan Sihanouk dalam tahanan rumah. Pemerintah yang ada saat itu segera diganti dan Pangeran Sihanouk dilepas dari jabatannya sebagai kepala negara. Kamboja menjadi sebuah republik komunis dengan nama 'Kamboja Demokratis' (Democratic Kampuchea) dan Khieu Samphan menjadi presiden pertama.Pada 13 Mei 1976 Pol Pot dilantik sebagai Perdana Menteri Kamboja dan mulai menerapkan perubahan sosialis terhadap negara tersebut. Pengeboman yang dilakukan pihak AS telah mengakibatkan wilayah pedesaan ditinggalkan dan kota-kota sesak diisi rakyat (Populasi Phnom Penh bertambah sekitar 1 juta jiwa dibandingkan dengan sebelum 1976).
Saat Khmer Merah mendapatkan kekuasaan, mereka mengevakuasi rakyat dari perkotaan ke pedesaan di mana mereka dipaksa hidup dalam ladang-ladang yang ditinggali bersama. Rezim Pol Pot sangat kritis terhadap oposisi maupun kritik politik; ribuan politikus dan pejabat dibunuh, dan Phnom Penh pun ikut berubah menjadi kota hantu yang penduduknya banyak yang meninggal akibat kelaparan, penyakit atau eksekusi. Ranjau-ranjau darat (oleh Pol Pot mereka disebut sebagai 'tentara yang sempurna') disebarkan secara luas ke seluruh wilayah pedesaan.
Pada akhir 1978, Vietnam menginvasi Kamboja. Pasukan Kamboja dikalahkan dengan mudah, dan Pol Pot lari ke perbatasan Thailand. Pada Januari 1979, Vietnam membentuk pemerintah boneka di bawah Heng Samrin, yang terdiri dari anggota Khmer Merah yang sebelumnya melarikan diri ke Vietnam untuk menghindari penmbasmian yang terjadi sebelumnya pada 1954. Banyak anggota Khmer Merah di Kamboja sebelah timur yang pindah ke pihak Vietnam karena takut dituduh berkolaborasi. Pol Pot berhasil mempertahankan jumlah pengikut yang cukup untuk tetap bertempur di wilayah-wilayah yang kecil di sebelah barat Kamboja. Pada saat itu, Tiongkok, yang sebelumnya mendukung Pol Pot, menyerang, dan menyebabkan Perang Tiongkok-Vietnam yang tidak berlangsung lama. Pol Pot, musuh Uni Soviet, juga memperoleh dukungan dari Thailand dan AS. AS dan Tiongkok memveto alokasi perwakilan Kamboja di Sidang Umum PBB yang berasal dari pemerintahan Heng Samrin. AS secara langsung dan tidak langsung mendukung Pol Pot dengan menyalurkan bantuan dana yang dikumpulkan untuk Khmer Merah.
Jumlah korban jiwa dari perang saudara, konsolidasi kekuasaan Pol Pot dan invasi Vietnam masih dipertentangkan. Sumber-sumber yang dapat dipercaya dari pihak Barat menyebut angka 1,6 juta jiwa, sedangkan sebuah sumber yang spesifik, seperti jumlah tiga juta korban jiwa antara 1975 dan 1979, diberikan oleh rezim Phnom Penh yang didukung Vietnam, PRK. Bapa Ponchaud memberikan perkiraan sebesar 2,3 juta—meski jumlah ini termasuk ratusan ribu korban sebelum pengambil alihan yang dilakukan Partai Komunis. Amnesty International menyebut 1,4 juta; sedngkan Departemen Negara AS, 1,2 juta. Khieu Samphan dan Pol Pot sendiri, masing-masing menyebut 1 juta dan 800.000.
Pasca Pemerintahan Partai Komunis
Pol Pot mundur dari jabatannya pada 1985, namun bertahan sebagai pemimpin de facto Partai Komunis dan kekuatan yang dominan di dalamnya.Pada 1989, Vietnam mundur dari Kamboja. Pol Pot menolak proses perdamaian, dan tetap berperang melawan pemerintah koalisi yang baru. Khmer Merah bertahan melawan pasukan pemerintah hingga 1996, saat banyak pasukannya yang telah kehilangan moral mulai meninggalkannya. Beberapa pejabat Khmer Merah yang penting juga berpindah pihak.
Pol Pot memerintahkan eksekusi terhadap rekan dekatnya Son Sen dan sebelas anggota keluarganya pada 10 Juni 1997 karena mencoba mengadakan persetujuan dengan pemerintah (kabar tentang ini tidak diketahui di luar Kamboja selama tiga hari). Pol Pot lalu melarikan diri namun berhasil ditangkap Kepala Militer Khmer Merah, Ta Mok dan dijadikan tahanan rumah seumur hidup. Pada April 1998, Ta Mok lari ke daerah hutan sambil membawa Pol Pot setelah sebuah serangan pemerintah yang baru. Beberapa hari kemudian, pada 15 April 1998, Pol Pot meninggal - kabarnya akibat serangan jantung. Jasadnya kemudian dibakar di wilayah pedesaan, disaksikan oleh beberapa anggota eks-Khmer Merah.
8. Augusto Pinochet
Augusto José Ramón Pinochet Ugarte (ValparaÃso, 25 November 1915–Providencia, 10 Desember 2006) adalah seorang jenderal dan diktator Chili. Ia adalah kepala junta militer yang berkuasa di Chili pada periode 1973 - 1990. Ia meraih kekuasaan dengan cara kudeta sesaat setelah pemilu demokratis yang memilih Presiden Salvador Allende yang sosialis. Ia tampil sebagai presiden Republik pada 1974 - 1990 (dari 1981 hingga terbentuknya sebuah Konstitusi 1980) yang baru.Sekitar 3.000 orang Chili terbunuh selama masa pemerintahannya. Pinochet memperkenalkan banyak kebijakan pasar bebas neoliberal.
Melalui Operasi Jakarta, presiden AS, Richard Nixon menggunakan CIA untuk membantu junta militer Chili dalam mengkudeta Presiden Salvador Allende dan menaikan Wakil Panglima Angkatan Bersenjata Chile, Augusto Pinochet Agurte. Sejak 1974-1990, tidak kurang dari 2025 kasus pelanggaran HAM dilakukan oleh rezim Pinochet melalui dinas rahasianya DINA (semacam Kopkamtib-nya Chile) telah terjadi. 1068 berupa kasus pembunuhan dan 957 kasus orang hilang.Kudeta yang dilakukan Pinochet terhadap Allende, bila dicermati amat mirip dengan yang diduga dilakukan Soeharto terhadap Soekarno yaitu setidaknya antara lain pada:
-Beredarnya dokumen yang meresahkan tentang perencanaan pembunuhan beberapa jenderal dan komandan-komandan militer. Hal itu selain terjadi di Chile (dokumen rencana ‘Z’) juga Indonesia (Beredarnya daftar pejabat AD yang akan dibunuh dikalangan tokoh-tokoh buruh, politisi dan elit militer Chili).
-Disebarnya isu yang menimbulkan keresahan dan ketidakstabilan poltitik dalam negeri. Di Chile masyarakat terutama serikat buruh militan dan jenderal-jenderal konservatif mendapat kiriman kartu-kartu kecil di mana tercetak kata-kata 'Jakarta Se Acerca' (Jakarta Sudah Mendekat).
-Diduga sangat kuat kedua kudeta tersebut sama-sama di dukung CIA.
Pada 1990 ia kehilangan kekuasaan, namun ia menjadikan dirinya senator seumur hidup, untuk mencegah agar ia tak ditangkap. Ia dipaksa meninggalkan kedudukan senator pada 2002, namun sekali lagi ia tak ditangkap, saat itu dikatakan ia menderita dementia. Pada Mei 2004 hakim berkata itu tidak benar. Pada 13 Desember ia ditempatkan dalam tahanan rumah.Ia meninggal dunia pada 10 Desember 2006 seminggu setelah terkena serangan jantung.
9. Soeharto
Jend. Besar TNI Purn. Haji Moehammad Soeharto, (ER, EYD: Suharto) (lahir di Kemusuk, Argomulyo, Yogyakarta, 8 Juni 1921 – wafat di Jakarta, 27 Januari 2008 dalam umur 86 tahun[1]) adalah Presiden Indonesia yang kedua, menggantikan Soekarno, dari 1967 sampai 1998.Sebelum menjadi presiden, Soeharto adalah pemimpin militer pada masa pendudukan Jepang dan Belanda, dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal. Setelah Gerakan 30 September, Soeharto menyatakan bahwa PKI adalah pihak yang bertanggung jawab dan memimpin operasi untuk menumpasnya. Operasi ini menewaskan lebih dari 500.000 jiwa.
Soeharto kemudian mengambil alih kekuasaan dari Soekarno, dan resmi menjadi presiden pada tahun 1968. Ia dipilih kembali oleh MPR pada tahun 1973, 1978, 1983, 1988, 1993, dan 1998. Pada tahun 1998, masa jabatannya berakhir setelah mengundurkan diri pada tanggal 21 Mei tahun tersebut, menyusul terjadinya Kerusuhan Mei 1998 dan pendudukan gedung DPR/MPR oleh ribuan mahasiswa. Ia merupakan orang Indonesia terlama dalam jabatannya sebagai presiden. Soeharto digantikan oleh B.J. Habibie.
Naik ke Kekuasaan
Pada pagi hari 1 Oktober 1965, beberapa pasukan pengawal Kepresidenan, Tjakrabirawa di bawah Letnan Kolonel Untung Syamsuri bersama pasukan lain menculik dan membunuh enam orang jendral. Pada peristiwa itu Jendral A.H. Nasution yang menjabat sebagai Menteri Koordinator bidang Hankam dan Kepala Staf Angkatan Bersenjata berhasil lolos. Satu yang terselamatkan, yang tidak menjadi target dari percobaan kudeta adalah Mayor Jendral Soeharto, meski menjadi sebuah pertanyaan apakah Soeharto ini terlibat atau tidak dalam peristiwa yang dikenal sebagai G-30-S itu. Beberapa sumber mengatakan, Pasukan Tjakrabirawa yang terlibat itu menyatakan bahwa mereka mencoba menghentikan kudeta militer yang didukung oleh CIA yang direncanakan untuk menyingkirkan Presiden Soekarno dari kekuasaan pada 'Hari ABRI', 5 Oktober 1965 oleh badan militer yang lebih dikenal sebagai Dewan Jenderal.
Peristiwa ini segera ditanggapi oleh Mayjen Soeharto untuk segera mengamankan Jakarta, menurut versi resmi sejarah pada masa Orde Baru, terutama setelah mendapatkan kabar bahwa Letjen Ahmad Yani, Menteri / Panglima Angkatan Darat tidak diketahui keberadaannya. Hal ini sebenarnya berdasarkan kebiasaan yang berlaku di Angkatan Darat bahwa bila Panglima Angkatan Darat berhalangan hadir, maka Panglima Kostrad yang menjalankan tugasnya. Tindakan ini diperkuat dengan turunnya Surat Perintah yang dikenal sebagai Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) dari Presiden Soekarno yang memberikan kewenangan dan mandat kepada Soeharto untuk mengambil segala tindakan untuk memulihkan keamanan dan ketertiban. Langkah yang diambil Soeharto adalah segera membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) sekalipun sempat ditentang Presiden Soekarno, penangkapan sejumlah menteri yang diduga terlibat G-30-S (Gerakan 30 September). Tindakan ini menurut pengamat internasional dikatakan sebagai langkah menyingkirkan Angkatan Bersenjata Indonesia yang pro-Soekarno dan pro-Komunis yang justru dialamatkan kepada Angkatan Udara Republik Indonesia di mana jajaran pimpinannya khususnya Panglima Angkatan Udara Laksamana Udara Omar Dhani yang dinilai pro Soekarno dan Komunis, dan akhirnya memaksa Soekarno untuk menyerahkan kekuasaan eksekutif. Tindakan pembersihan dari unsur-unsur komunis (PKI) membawa tindakan penghukuman mati anggota Partai Komunis di Indonesia yang menyebabkan pembunuhan sistematis sekitar 500 ribu 'tersangka komunis', kebanyakan warga sipil, dan kekerasan terhadap minoritas Tionghoa Indonesia.
Soeharto dikatakan menerima dukungan CIA dalam penumpasan komunis. Diplomat Amerika 25 tahun kemudian mengungkapkan bahwa mereka telah menulis daftar 'operasi komunis' Indonesia dan telah menyerahkan sebanyak 5.000 nama kepada militer Indonesia. Been Huang, bekas anggota kedutaan politik AS di Jakarta mengatakan di 1990 bahwa: 'Itu merupakan suatu pertolongan besar bagi Angkatan Bersenjata. Mereka mungkin membunuh banyak orang, dan saya kemungkinan memiliki banyak darah di tangan saya, tetapi tidak seburuk itu. Ada saatnya di mana anda harus memukul keras pada saat yang tepat.' Howard Fenderspiel, ahli Indonesia di State Department's Bureau of Intelligence and Research di 1965: 'Tidak ada yang peduli, selama mereka adalah komunis, bahwa mereka dibantai. Tidak ada yang bekerja tentangnya.'1 Dia mengakhiri konfrontasi dengan Malaysia dalam rangka membebaskan sumber daya di militer.
Jendral Soeharto akhirnya menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia setelah pertanggungjawaban Presiden Soekarno (NAWAKSARA) ditolak MPRS pada tahun 1967, kemudian mendirikan apa yang disebut Orde Baru.Beberapa pengamat politik baik dalam negeri maupun luar negeri mengatakan bahwa Soeharto membersihkan parlemen dari komunis, menyingkirkan serikat buruh dan meningkatkan sensor. Dia juga memutuskan hubungan diplomatik dengan Republik Rakyat Cina dan menjalin hubungan dengan negara barat dan PBB. Dia menjadi penentu dalam semua keputusan politik.
Jendral Soeharto dikatakan meningkatkan dana militer dan mendirikan dua badan intelijen - Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) dan Badan Koordinasi Intelijen Nasional (Bakin). Sekitar 2 juta orang dieksekusi dalam pembersihan massal dan lebih dari 200.000 ditangkap hanya karena dicurigai terlibat dalam kudeta. Banyak komunis, tersangka komunis dan yang disebut 'musuh negara' dihukum mati (meskipun beberapa hukuman ditunda sampai 1990).
Diduga bahwa daftar tersangka komunis diberikan ke tangan Soeharto oleh CIA. Sebagai tambahan, CIA melacak nama dalam daftar ini ketika rezim Soeharto mulai mencari mereka. Dukungan yang tidak dibicarakan ini dari Pemerintah Amerika Serikat untuk rezim Soeharto tetap diam sampai invasi Timor Timur, dan terus berlangsung sampai akhir 1990-an. Karena kekayaan sumber daya alamnya dan populasi konsumen yang besar, Indonesia dihargai sebagai rekan dagang Amerika Serikat dan begitu juga pengiriman senjata tetapi dipertahankan ke rezim Soeharto. Ketika Soeharto mengumjungi Washington pada 1995 pejabat administratif Clinton dikutip di New York Times mengatakan bahwa Soeharto adalah 'orang seperti kita' atau 'orang golongan kita'.
Pada 12 Maret 1967 Soeharto diangkat sebagai Pejabat Presiden Indonesia oleh MPR Sementara. Setahun kemudian, pada 27 Maret 1968 dia resmi diangkat sebagai Presiden untuk masa jabatan lima tahun yang pertama. Dia secara langsung menunjuk 20% anggota MPR. Partai Golkar menjadi partai favorit dan satu-satunya yang diterima oleh pejabat pemerintah. Indonesia juga menjadi salah satu pendiri ASEAN.
Ekonomi Indonesia benar-benar amburadul di pertengahan 1960-an. Soeharto pun kemudian meminta nasehat dari tim ekonom hasil didikan Barat yang banyak dikenal sebagai 'mafia Berkeley'. Tujuan jangka pendek pemerintahan baru ini adalah mengendalikan inflasi, menstabilkan nilai rupiah, memperoleh hutang luar negeri, serta mendorong masuknya investasi asing. Dan untuk satu hal ini, kesuksesan mereka tidak bisa dipungkiri. Peran Sudjono Humardani sebagai asisten finansial besar artinya dalam pencapaian ini.Di bidang sosial politik, Soeharto menyerahkannya kepada Ali Murtopo sebagai asisten untuk masalah-masalah politik. Menghilangkan oposisi dengan melemahkan kekuatan partai politik dilakukan melalui fusi dalam sistem kepartaian.
Puncak Orde Baru
Pada masa pemerintahannya, Presiden Soeharto menetapkan pertumbuhan ekonomi sebagai pokok tugas dan tujuan pemerintah. Dia mengangkat banyak teknokrat dan ahli ekonomi yang sebelumnya bertentangan dengan Presiden Soekarno yang cenderung bersifat sosialis. Teknokrat-teknokrat yang umumnya berpendidikan barat dan liberal (Amerika Serikat) diangkat adalah lulusan Berkeley sehingga mereka lebih dikenal di dalam klik ekonomi sebagai Mafia Berkeley di kalangan Ekonomi, Industri dan Keuangan Indonesia. Pada masanya, Indonesia mendapatkan bantuan ekonomi dan keuangan dari negara-negara donor (negara-negara maju) yang tergabung dalan IGGI yang diseponsori oleh pemerintah Belanda. Namun pada tahun 1992, IGGI dihentikan oleh pemerintah Indonesia karena dianggap turut campur dalam urusan dalam negeri Indonesia, khususnya dalam kasus Timor Timur pasca Insiden Dili. Peran IGGI ini digantikan oleh lembaga donor CGI yang disponsori Perancis. Selain itu, Indonesia mendapat bantuan dari lembaga internasional lainnya yang berada dibawah PBB seperti UNICEF, UNESCO dan WHO. Namun sayangnya, kegagalan manajemen ekonomi yang bertumpu dalam sistem trickle down effect (menetes ke bawah) yang mementingkan pertumbuhan dan pengelolaan ekonomi pada segelintir kalangan serta buruknya manajemen ekonomi perdagangan industri dan keuangan (EKUIN) pemerintah, membuat Indonesia akhirnya bergantung pada donor Internasional terutama paska Krisis 1997. Dalam bidang ekonomi juga, tercatat Indonesia mengalami swasembada beras pada tahun 1984. Namun prestasi itu ternyata tidak dapat dipertahankan pada tahun-tahun berikutnya. Kemudian kemajuan ekonomi Indonesia saat itu dianggap sangat signifikan sehingga Indonesia sempat dimasukkan dalam negara yang mendekati negara-negara Industri Baru bersama dengan Malaysia, Filipina dan Thailand, selain Singapura, Taiwan dan Korea Selatan.
Di bidang politik, Presiden Soeharto melakukan penyatuan partai-partai politik sehingga pada masa itu dikenal tiga partai politik yakni Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Golongan Karya (Golkar) dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dalam upayanya menyederhanakan kehidupan berpolitik di Indonesia sebagai akibat dari politik masa presiden Soekarno yang menggunakan sistem multipartai yang berakibat pada jatuh bangunnya kabinet dan dianggap penyebab mandeknya pembangunan. Kemudian dikeluarkannnya UU Politik dan Asas tunggal Pancasila yang mewarnai kehidupan politik saat itu. Namun dalam perjalanannya, terjadi ketimpangan dalam kehidupan politik di mana muncullah istilah 'mayoritas tunggal' di mana GOLKAR dijadikan partai utama dan mengebirikan dua parpol lainnya dalam setiap penyelenggaraan PEMILU. Berbagai ketidakpuasan muncul, namun dapat diredam oleh sistem pada masa itu.
Seiring dengan naiknya taraf pendidikan pada masa pemerintahannya karena pertumbuhan ekonomi, muncullah berbagai kritik dan ketidakpuasan atas ketimpangan ketimpangan dalam pembangunan. Kesenjangan ekonomi, sosial dan politik memunculkan kalangan yang tidak puas dan menuntut perbaikan. Kemudian pada masa pemerintahannya, tercatat muncul peristiwa kekerasan di masyarakat yang umumnya sarat kepentingan politik, selain memang karena ketidakpuasan dari masyarakat.
Beberapa Catatan Atas Tindakan Represif Orde Baru
Presiden Soeharto dinilai memulai penekanan terhadap suku Tionghoa, melarang penggunaan tulisan Tionghoa tertulis di berbagai material tertulis, dan menutup organisasi Tionghoa karena tuduhan simpati mereka terhadap komunis. Walaupun begitu, Soeharto terlibat persahabatan yang akrab dengan Lee Kuan Yew yang pernah manjadi Perdana Menteri Singapura yang beretnis Tionghoa.
Pada 1970 Soeharto melarang protes pelajar setelah demonstrasi yang meluas melawan korupsi. Sebuah komisi menemukan bahwa korupsi sangat umum. Soeharto menyetujui hanya dua kasus dan kemudian menutup komisi tersebut. Korupsi kemudian menjadi sebuah endemik.Dia memerintah melalui kontrol militer dan penyensoran media. Dia menguasai finansial dengan memberikan transaksi mudah dan monopoli kepada saudara-saudaranya, termasuk enam anaknya. Dia juga terus memainkan faksi berlainan di militer melawan satu sama lain, dimulai dengan mendukung kelompok nasionalis dan kemudian mendukung unsur Islam.
Pada 1973 dia memenangkan jangka lima-tahun berikutnya melalui pemilihan 'electoral college'. dan juga terpilih kembali pada 1978, 1983, 1988, 1993, dan 1998. Soeharto mengubah UU Pemilu dengan mengizinkan hanya tiga partai yang boleh mengikuti pemilihan, termasuk partainya sendiri, Golkar. Oleh karena itu semua partai Islam yang ada diharuskan bergabung menjadi Partai Persatuan Pembangunan, sementara partai-partai non-Islam (ka****k dan Protestan) serta partai-partai nasionalis digabungkan menjadi Partai Demokrasi Indonesia.
Pada 1975, dengan persetujuan bahkan permintaan Amerika Serikat dan Australia, ia memerintahkan pasukan Indonesia untuk memasuki bekas koloni Portugal Timor Timur setelah Portugal mundur dan gerakan Fretilin memegang kuasa yang menimbulkan kekacauan di masyarakat Timor Timur Sendiri, serta kekhawatiran Amerika Serikat atas tidakan Fretilin yang menurutnya mengundang campur tangan Uni Soviet. Kemudian pemerintahan pro integrasi dipasang oleh Indonesia meminta wilayah tersebut berintegrasi dengan Indonesia. Pada 15 Juli 1976 Timor Timur menjadi provinsi Timor Timur sampai wilayah tersebut dialihkan ke administrasi PBB pada 1999.Korupsi menjadi beban berat pada 1980-an. Pada 5 Mei 1980 sebuah kelompok yang kemudian lebih dikenal dengan nama Petisi 50 menuntut kebebasan politik yang lebih besar. Kelompok ini terdiri dari anggota militer, politisi, akademik, dan mahasiswa. Media Indonesia menekan beritanya dan pemerintah mecekal penandatangannya. Setelah pada 1984 kelompok ini menuduh bahwa Soeharto menciptakan negara satu partai, beberapa pemimpinnya dipenjarakan.Catatan hak asasi manusia Soeharto juga semakin memburuk dari tahun ke tahun. Pada 1993 Komisi HAM PBB membuat resolusi yang mengungkapkan keprihatinan yang mendalam terhadap pelanggaran hak-hak asasi manusia di Indonesia dan di Timor Timur. Presiden AS Bill Clinton mendukungnya.
Pada 1996 Soeharto berusaha menyingkirkan Megawati Soekarnoputri dari kepemimpinan Partai Demokrasi Indonesia (PDI), salah satu dari tiga partai resmi. Di bulan Juni, pendukung Megawati menduduki markas besar partai tersebut. Setelah pasukan keamanan menahan mereka, kerusuhan pecah di Jakarta pada tanggal 27 Juli 1996 (peristiwa Sabtu Kelabu) yang dikenal sebagai 'Peristiwa Kudatuli' (Kerusuhan Dua Tujuh Juli).
Soeharto Turun Takhta
Pada 1997, menurut Bank Dunia, 20 sampai 30% dari dana pengembangan Indonesia telah disalahgunakan selama bertahun-tahun. Krisis finansial Asia di tahun yang sama tidak membawa hal bagus bagi pemerintahan Presiden Soeharto ketika ia dipaksa untuk meminta pinjaman, yang juga berarti pemeriksaan menyeluruh dan mendetail dari IMF.
Mekipun sempat menyatakan untuk tidak dicalonkan kembali sebagai Presiden pada periode 1998-2003, terutama pada acara Golongan Karya, Soeharto tetap memastikan ia terpilih kembali oleh parlemen untuk ketujuh kalinya di Maret 1998. Setelah beberapa demonstrasi, kerusuhan, tekanan politik dan militer, serta berpuncak pada pendudukan gedung DPR/MPR RI, Presiden Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998 untuk menghindari perpecahan dan meletusnya ketidakstabilan di Indonesia. Pemerintahan dilanjutkan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, B.J. Habibie.Dalam pemerintahannya yang berlangsung selama 32 tahun lamanya, telah terjadi penyalahgunaan kekuasaan termasuk korupsi dan pelanggaran HAM. Hal ini merupakan salah satu faktor berakhirnya era Soeharto.
10. George Walker Bush
George Walker Bush (lahir di New Haven, Connecticut, 6 Juli 1946; umur 62 tahun) adalah Presiden Amerika Serikat ke-43 yang saat ini sedang menjabat. Ia dilantik 20 Januari 2001 setelah terpilih lewat pemilu presiden tahun 2000 dan terpilih kembali pada pemilu presiden tahun 2004. Jabatan kepresidenan kedua kalinya akan berakhir pada 20 Januari 2009. Sebelumnya, ia adalah Gubernur Texas ke-46 (1995-2000). Jabatan ini ditinggalkan sesaat setelah dirinya terpilih sebagai presiden.
Dalam sejarahnya, Keluarga Bush adalah bagian dari Partai Republik dan politik Amerika. Bush adalah anak tertua mantan Presiden Amerika Serikat George H. W. Bush. Ibunya adalah Barbara Bush. Kakeknya, Prescott Bush adalah mantan Senator Amerika Serikat dari Connecticut. Sedang, adiknya, Jeb Bush adalah mantan Gubernur Florida. Menyusul Serangan 11 September 2001, Bush mengumumkan Perang melawan terorisme secara menyeluruh. Sepanjang Oktober 2001, dia memerintahkan invasi ke Afganistan untuk melumpuhkan kekuatan Taliban dan al-Qaeda.Pada Maret 2003, Bush memerintahkan penyeranganan ke Irak dengan alasan bahwa Irak telah melanggar Resolusi PBB no. 1441 mengenai senjata pemusnah massal dan karenanya harus dilucuti dengan kekerasan.Setelah digulingkannya rezim Saddam Hussein, Bush bertekad memimpin AS untuk menegakkan demokrasi di Timur tengah, yang dimulai dengan Afganistan dan Irak.Namun hingga kini situasi di Irak semakin tidak stabil karena pertikaian yang berkepanjangan antara kelompok Sunni, yang di masa Saddam Hussein praktis berkuasa atas kelompok mayoritas Syi'ah, yang kini ganti berkuasa.
Bush pertama-tama dipilih pada tahun 2000, dan menjadi presiden keempat dalam sejarah AS yang dipilih tanpa memenangkan suara rakyat setelah 1824, 1876, dan 1888. Bush yang menggambarkan dirinya sebagai 'presiden perang',terpilih kembali pada 2004setelah kampanye pemilihan yang sengit dan panas. Dalam kampanye ini, keputusannya untuk mengadakan Perang melawan Terorisme dan Perang Irak dijadikan isu sentral. Bush menjadi kandidat pertama yang memperoleh kemenangan mayoritas suara rakyat sejak ayahnya menang 16 tahun sebelumnya.Dalam tiga pemilihan umum sebelumnya, penampilan kandidat partai ketiga yang hebat telah menghalangi pemenang suara rakyat, Gore dan Clinton, untuk memperoleh suara mayoritas rakyat.
Presiden AS
Bush merupakan orang kedua menjadi presiden yang mengikuti jejak ayahnya George H. W. Bush, Presiden Amerika Serikat yang ke-41, setelah John Adams, Presiden kedua, dan John Quincy Adams, yang keenam, merupakan bapak dan anak. Terdapat juga pasangan kakek dan cucu, William Henry Harrison dan Benjamin Harrison.
Masa Jabatan Pertama
Masa jabatannya sebagai presiden didominasi 'perang melawan terorisme', yang mencuat setelah terjadinya Peristiwa 9/11 (serangan terhadap WTC). Serangan tersebut dijadikannya alasan untuk memerintahkan invasi terhadap Afganistan pada tahun 2001 untuk membebaskan Afganistan dari rezim Taliban dan Irak pada tahun 2003 untuk menjatuhkan pemerintah Saddam Hussein. Bush menyatakan kemenangan AS dalam invasi Irak pada 1 Mei 2003, namun hingga kini (Agustus 2006) konflik di Irak masih belum berakhir akibat serangan-serangan dari para pemberon
Masa Jabatan Kedua
Meskipun banyak pihak yang menentang kedua peristiwa tersebut (khususnya dari luar AS), ia memenangkan Pemilu Presiden Amerika 2004 dengan selisih 3% dengan saingan utamanya John Kerry. Masa jabatan keduanya masih dipenuhi masalah di Irak, karena korban dari pasukan AS terus berjatuhan, mencapai lebih dari 2.500 orang hingga 3 Agustus 2006.
Peristiwa penting lain pada masa jabatan kedua ini adalah Badai Katrina pada Agustus 2005. Bush dianggap lambat dalam menangani peristiwa ini, yang memakan korban ribuan jiwa. Kejadian ini juga memperlihatkan jurang ekonomi yang jelas antara kaum kulit putih dan kulit hitam di Amerika. Dalam acara penandatanganan peraturan bioetik alternatif yang dihadiri 18 keluarga dengan 20-an batita yang lahir dari embrio sumbangan sisa dari prosedur fertilisasi in vitro, untuk pertama kalinya ia menggunakan hak vetonya untuk menghalangi RUU bagi pengembangan riset sel induk embrionik.Pada saat ini jabatan Kepala Staf Gedung Putih dipegang oleh Joshua B. Bolten dan Wakil Kepala Stafnya dijabat oleh Karl Rove.
Tamat
Sumber: http://sourceflame.blogspot.com
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
,
Perang di Amerika
Agen rahasia Amerika berusaha keras menghabisi Fidel Castro. Mulai dengan cerutu sampai pena beracun. Semuanya gagal.
Central Intelligence Agency (CIA) selalu punya rencana kreatif untuk menghabisi pemimpin negara lain yang kontra terhadap Amerika Serikat. Salah satunya ditujukan untuk menggulingkan pemimpin Kuba Fidel Castro. Untuk menyukseskan rencana itu, pada awal tahun 1960 CIA menjalankan misi rahasia bernama Operasi Musang. Operasi bertujuan membunuh Fidel Castro atau paling tidak mempermalukannya di hadapan pendukungnya. Bermacam alat pendukung pun diciptakan untuk melancarkan jalannya operasi tersebut.
Proyek pembuatan peralatan itu menggunakan nama sandi MKULTRA, program CIA di saat Perang Dingin. Proyek ini dibentuk pada Maret 1953 oleh Allen Dulles, Direktur Intelijen Pusat CIA. Pengerjaannya diserahkan kepada TSS (Technical Services Staff) dan seorang staf ahli kimianya, Dr Sidney Gottlieb, yang saat itu berusia tigapuluh empat tahun.
Dalam buku Penipuan dan Trik Kotor CIA yang diterjemahkan dari The Official CIA Manual of Trikery and Deception, H. Keith Melton, pakar spionase, dan Robert Wallace, mantan agen CIA menulis berbagai cara yang ditempuh oleh CIA untuk mempermalukan atau membunuh Castro.
Cara pertama diusulkan oleh seorang ahli kimia bioorganik yang tak diketahui namanya. Dia mengusulkan agar Castro disemprot cairan LSD (Lysergic Acid Diethylamide). Cairan itu ditemukan oleh ahli kimia asal Swiss Albert Hofmann pada 1938 saat bekerja di perusahaan farmasi Sandoz. Dia menemukan LSD saat meneliti jamur yang tumbuh di tanaman gandum. Hofmann bahkan sempat dibuat berhalusinasi gara-gara obat temuannya itu yang menetes dan merembes lewat jari tangannya saat melakukan percobaan. LSD, yang kemudian dilarang penggunaannya di akhir tahun 1960-an itu, pernah jadi obat favorit bagi para pecandu narkotika.
Diam-diam Operasi Musang menyiapkan aksi menyemprot studio penyiaran milik Castro di Havana agar dia terkena efek halusinasi dari obat itu. Bukan saja dengan semprotan, operasi juga diarahkan untuk memasukan cairan kimia khusus ke dalam cerutu Castro yang dikenal perokok berat itu. Cara itu diyakini bisa membuat Castro mengalami disorientasi dan meracau saat berpidato. Seperti diketahui, salah satu pesona Castro ialah saat ia menyampaikan pidatonya yang membakar semangat rakyatnya. Amerika tak menginginkan itu.
Dinas intelijen rahasia Amerika itu pun tak hanya bernafsu menghabisi nyawa Castro, tapi juga ingin memudarkan kharisma pemimpin revolusi itu. CIA pun berhasil menemukan di mana letak kharisma Castro, yakni pada jenggot lebatnya. Operasi Musang pun segera mengatur siasat, mencari cara merontokkan jenggot Castro.
Rencana disiapkan saat Castro sedang bepergian ke luar negeri. Pada saat kunjungan itu biasanya dia meninggalkan sepatunya di kamar hotel pada malam hari untuk disemir. “CIA berpikir untuk membersihkan bagian dalam sepatu bot itu dengan garam talium, obat penghilang rambut yang kuat, yang akan menyebabkan jenggotnya rontok. Bahan kimia tersebut berhasil diperoleh dan diujikan pada hewan. Tetapi, rencana tersebut dibatalkan karena Castro membatalkan jadwal perjalanannya yang sudah diincar itu,” tulis Melton dan Wallace.
Mirip dengan siasat sepatu bot beracun itu, LSD juga bisa dimasukkan ke dalam cerutu Castro. Racun LSD yang terhisap oleh Castro itu pun akan bereaksi merontokkan jenggotnya sekaligus memupus kesan macho pada wajah Castro. Sekotak cerutu khusus akan disediakan buat Castro dalam penampilannya pada acara talkshow televisi yang dipandu David Susskind. Susskind adalah host acara talkshow open end di stasiun televisi WNTA-TV di New York, Amerika Serikat.
Namun, lagi-lagi rencana itu buyar karena tidak ada kepastian apakah Castro sendirian yang mengisap cerutu itu atau malah Susskind juga akan ikut mengisapnya? Pertanyaan itu terlontar dari seorang perwira senior CIA. Karena ragu, akhirnya ide urung dilakukan.
Gagal dalam talkshow, rencana kembali disusun. Kali ini seorang agen ganda Kuba direkrut untuk menawarkan Castro cerutu mengandung botulin, racun yang mengakibatkan kematian dalam hitungan detik. Cerutu itu diberikan ke agen tersebut pada Februari 1961. Tapi dia gagal menjalankan tugasnya setelah rencana jahat itu terendus oleh agen rahasia Kuba. Menyadari kalau Castro berpotensi diracun lewat cerutu, pejabat kemanan Kuba kemudian menciptakan cerutu khusus bermerk Cohiba buat Castro.
Berkali-kali gagal membuat CIA semakin bernafsu menghabisi Castro. Rencana berikutnya lebih mengerikan: Sekotak cerutu berisi peledak disiapkan untuk meledakkan Castro dalam perjalanannya ke kantor PBB. Sama dengan rencana sebelumnya, aksi itu pun batal terlaksana.
Selang beberapa waktu dengan insiden pembunuhan Presiden Kennedy di Dallas, 22 November 1963, seorang perwira CIA diam-diam menemui Rolando Cubela, seorang agen Kuba di Paris. Perwira itu menawari Cubela sebuah pulpen beracun untuk membunuh Castro. Pulpen jenis Paper Mate itu dimodifikasi sedemikian rupa untuk menyembunyikan jarum suntik kecil yang mengandung racun Blackleaf-40.
Tusukan paling ringan dari jarum suntik itu akan mengakibatkan kematian. Cubela punya sedikit saja waktu untuk melarikan diri sebelum efeknya terlihat. Namun, setelah mengambil pelajaran dari kematian Kennedy, Cubela membatalkan rencananya. Sebelum kembali ke Kuba, dia membuang pulpen beracun itu.
Castro pun panjang umur dan masih hidup sampai hari ini. Cerutu beracun tak mampu merontokkan jenggot machonya. [HENDRI F. ISNAENI]
Sumber: http://www.majalah-historia.com/majalah/historia
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Perang di Amerika
,
Perang Saudara
Peringatan Perang Saudara Amerika mengundang pro dan kontra.
Peringatan Perang Saudara bukan hal yang paling ditunggu oleh masyarakat Amerika. Peristiwa itu dianggap sebagai salah satu episode paling memilukan sekaligus paling berdarah dalam sejarah Amerika.
Meski demikian, persiapan peringatan 150 tahun Perang Saudara yang akan berlangsung selama empat tahun tetap berjalan. Setidaknya dilakukan beberapa kelompok di negara-negara bagian di Selatan. Mereka berencana merayakan momen-momen gemilang ketika pada 1861, 11 negara bagian di Selatan menyatakan kedaulatan mereka, melepaskan diri dari Amerika Serikat, dan bergabung di bawah bendera Konfederasi.
Masuk dalam agenda peringatan itu adalah “Pesta Dansa Pemisahan Diri” (secession ball) di kota pelabuhan Charleston, yang dulu dipakai untuk menampung dan memperdagangkan budak. “Sebuah malam penuh keceriaan dengan iringan musik, dansa, makanan, dan minuman,” tulis undangan untuk acara tersebut. Acara serupa dalam skala lebih kecil digelar di kota-kota lain. Sebuah parade akan digelar di Montgomery, Alabama, yang juga dimeriahkan dengan acara rekonstruksi pengambilan sumpah Jefferson Davis sebagai presiden Konfederasi.
Organisasi Sons of Confederate Veterans dan cabang-cabangnya di beberapa negara bagian mempersiapkan sejumlah iklan televisi yang akan ditayangkan tahun depan. “Yang kami inginkan adalah kedaulatan untuk memerintah diri kami sendiri,” demikian bunyi sebuah iklan yang dibuat cabang Georgia.
Kondisi itu, di mana masih ada pihak-pihak yang bersimpati pada pemisahan diri dan seolah menafikan soal perbudakan, menunjukkan betapa beragam pendapat orang Amerika tentang Perang Saudara. Hingga kini orang-orang Amerika masih memperdebatkan penyebab, makna, dan warisan dari Perang Saudara.
“Kami di Selatan telah dipermalukan untuk waktu amat lama dan dituduh rasis. Kami hanya ingin kebenaran diungkapkan,” ujar Michael Givens, pemimpin Sons of Confederate Veterans, menjelaskan alasan pembuatan iklan televisi itu. Meski ada banyak penyebab perang, ujarnya, “kami hanya berjuang untuk melindungi diri dari invasi dan untuk kemerdekaan kami.”
Tentu saja tak semua orang setuju dengan program ini. National Association for the Advancement of Colored People (NAACP) –salah satu organisasi pembela hak-hak sipil terkemuka di Amerika– berencana memprotes beberapa acara dalam peringatan itu. Menurut NAACP, merayakan pemisahan diri sama artinya dengan merayakan perbudakan.
“Saya hanya bisa membayangkan perayaan macam apa yang akan mereka lakukan jika mereka menang perang,” ujar Lonnie Randolph, Presiden NAACP Carolina Selatan.
Dia bilang dia tercengang atas “pengagung-agungan dan ketidakterimaan atas apa yang sebenarnya terjadi.” Ketika orang-orang Selatan bicara tentang hak-hak mereka, ujarnya, “sesungguhnya mereka membicarakan satu hak saja –untuk memperjual-belikan manusia.”
Acara itu hanya satu dari ratusan, atau bahkan mungkin ribuan, yang akan berlangsung selama empat tahun ke depan, untuk memperingati 1,5 abad Perang Saudara. Dari wilayah Fort Sumter hingga Appomattox, situs-situs bersejarah di seluruh negara bagian Selatan, dan beberapa situs di Utara, berencana memperingati beberapa aspek dari konflik paling berdarah di Amerika –dan mungkin paling tak terselesaikan.
Beberapa kegiatan murni bersifat sejarah. Beberapa kegiatan lainnya, seperti peringatan 147 tahun pidato Abraham Lincoln di Gettysburg, akan dilakukan dengan khidmat. Pada Sabtu mendatang (4/12), peringatan tahunan itu akan menyalakan 23.000 lilin, yang yang mewakili jumlah korban pertempuran.
Beberapa kota dan negara bagian mempromosikan sejarah Perang Saudara untuk menarik turis. Di Atlanta, Cyclorama, sebuah lukisan raksasa yang menggambarkan hari pertama pertempuran di Atlanta, direstorasi sebagai bagian dari rencana promosi,” ujar Camille Love, direktur budaya pemerintah kota Atlanta.
Memperingati Perang Saudara tak pernah mudah seperti terjadi pada peringatan satu abad, yang digelar 50 tahun lalu. Saat itu muncul gerakan hak-hak sipil. Sebagian besar negara-negara bagian di Selatan menerapkan kebijakan Separate but Equal (Terpisah tapi Setara) untuk memisahkan kalangan masyarakat kulit hitam dan kulit putih. Peringatan itu malah menjadi semacam ejekan yang menggarisbawahi bahwa budak belum sepenuhnya bebas dan kesetaraan belum benar-benar tercapai.
Saat itu Kongres Amerika membentuk Komisi Peringatan Seabad Perang Saudara, yang kemudian kehilangan kredibilitasnya ketika anggotanya memutuskan bertemu di sebuah hotel yang mendukung kebijakan pemisahan diri. Tahun ini Kongres tak membentuk komisi apapun, dan pernyataan yang mereka keluarkan soal Perang Saudara tak begitu jelas.
“Kami tak tahu apakah akan memperingatinya, karena kami tak pernah menghadapi implikasi sesungguhnya dari Perang Saudara,“ ujar Andrew Young, seorang veteran gerakan hak-hak sipil dan mantan walikota Atlanta.
“(Mungkin) jawaban mudah untuk sebagian orang kulit hitam adalah perang itu membebaskan kami, namun sebenarnya tidak,” itu bukan yang sesungguhnya terjadi,” ujar Young. “Kami masih harus menjalani 100 tahun keterasingan. Kami tak pernah melakukan rekonsiliasi secara tuntas dengan kekuatan-kekuatan yang memisahkan kami.”
Sentimen yang ditimbulkan Perang Saudara masih terlihat awal tahun ini ketika Gubernur Virginia Bob McDonnell menjadikan bulan April sebagai Bulan Sejarah Konfederasi –tanpa sedikit pun menyebut-nyebut tentang perbudakan. Setelah muncul protes, dia meminta maaf dan mengubah pernyataannya; mengutuk perbudakan sekaligus menyatakan bahwa perbudakan adalah penyebab perang.
Keputusan McDonnell menjadikan April sebagai bulan bersejarah didorong Sons of Confederate Veterans, yang menyatakan bahwa Konfederasi adalah bentuk perjuangan bagi pemerintahan kecil dan hak-hak negara bagian. Peringatan 1,5 abad Perang Saudara kali ini bersamaan dengan kemunculan “Tea Party Movement” –serangkaian protes pada 2009 yang menuntut pemerintah Amerika menekan pengeluaran, memotong pajak, serta mengembalikan intrepretasi asli Konstitusi Amerika dalam menjalankan pemerintahan. Peringatan ini memberi peluang bagi Sons of Confederate Veterans untuk mempromosikan pandangannya.
Jeff Antley, seorang anggota Sons of Confederate Veterans yang juga anggota Confederate Heritage Trust, mengatur acara Pesta Dansa Pemisahan Diri dan rekonstruksi Perang Saudara yang berlangsung selama 10 hari di Fort Sumter, tempat tembakan pertama dalam Perang Saudara meletus pada 12 April 1861. Dia mengatakan, acara ini bukanlah tentang politik modern namun dimaksudkan untuk menghormati orang-orang di Carolina Selatan yang menandatangani persetujuan pemisahan diri pada 20 Desember 1860. Carolina Selatan adalah negara bagian pertama yang memisahkan diri dari Amerika Serikat.
“Kami merayakannya untuk 170 orang yang mempertaruhkan jiwa dan nasib mereka untuk mempertahankan keyakinan mereka, yakni pemerintahan sendiri,” ujar Antley. “Banyak orang di Selatan masih percaya bahwa itu tindakan yang benar dan terpuji. Apakah saya yakin atas apa yang mereka lakukan adalah benar? Tentu saja,” ujar Antley, sembari menambahkan bahwa ini adalah pendapat pribadi, bukan organisasi. “Tak perlu ada rasa malu atau penyesalan atas tindakan yang mereka ambil.”
Antley mengatakan, dia tak membela perbudakan, sesuatu yang dia benci. “Tapi saya membela hak negara-negara Selatan untuk memisahkan diri, hak para serdadu untuk mempertahankan rumah-rumah mereka, dan hak untuk pemerintahan sendiri. Meski ada perbudakan, tak berarti hak-hak ini tak punya arti.”
Sebagian besar sejarawan mengatakan, tak mungkin menghilangkan perbudakan dari konteks Perang Saudara. Sebagaimana dijabarkan James W.Loewen, sosiolog dan penulis buku Lies My Teacher Told Me, “Negara-negara Utara tak berperang untuk mengakhiri perbudakan. Mereka berperang untuk mempertahankan persatuan dan kesatuan. Perlahan perang itu berubah menjadi perang antiperbudakan –tapi perbudakan adalah alasan utama negara-negara Selatan memisahkan diri.”
Dalam pernyataan pemisahan diri, Mississippi, misalnya, menyebut perbudakan sebagai “harta kekayaan terhebat di dunia,” dan mengatakan bahwa usaha menghilangkan perbudakan adalah sebuah pelecehan terhadap “perdagangan dan peradaban manusia.”
Konflik itu masih terjadi hingga beberapa dekade terakhir, yang menampilkan berbagai versi sejarah, yang diceritakan atau tidak diceritakan, dalam berbagai pameran di museum-museum atau piagam-piagam pertempuran.
“Pertempuran ingatan ini tak hanya bersifat akademis,” ujar Mark Potok, direktur di Southern Poverty Law Center. “Pertempuran ingatan ini juga tentang pandangan masyarakat saat ini. Saya tak merasa gerakan neo-Konfederasi sedang tumbuh kembali, tapi ia punya kesempatan untuk hidup kembali karena peringatan 1,5 abad ini.” [VIFI/ New York Times]
Sumber: http://www.majalah-historia.com
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
,
Perang di Amerika
,
Perang Saudara
1928-1953
14 Juni 1928: Ernesto Guevara lahir di kota Rosario, Argentina, dari pasangan Ernesto Guevara Lynch dan Celia de la Serna; dia menjadi anak pertama dari lima bersaudara.
1945: Keluarga Guevara pindah ke Buenos Aires.
1945-1951: Ernesto Guevara belajar di sekolah kedokteran di Buenos Aires.
Januari-Juli 1952: Mengunjungi Peru, Kolombia dan Venezuela; di Peru bekerja di koloni penderita kusta.
10 Maret 1952: Fulgencio Batista melakukan kudeta di Kuba.
Maret 1953: Guevara menerima gelar dokter medis.
26 Juli 1953: Fidel Castro memimpin penyerangan ke Garnisun Moncada di Santiago de Cuba, melancarkan perjuangan bersenjata revolusioner menentang Batista; serangan mengalami kegagalan dan tentara Batista membantai lebih dari lima puluh pejuang yang tertangkap; Castro dan lainnya yang hidup kemudian ditangkap dan dipenjarakan.
1953: Setelah menerima gelar sarjana kedokteran, Guevara melakukan perjalanan ke seluruh Amerika Latin; mengunjungi Bolivia, disana ia mempelajarai impak revolusi 1952.
24 Desember 1953: Sampai di Guatemala, yang berada dibawah pemerintahan Jacobs Arbens.
1954
Januari – Juni: Tidak berhasil memperoleh pekerjaan menetap di bidang medis. Di Guatemala, Guevara bekerja serabutan; mempelajari Marxisme dan berpartisipasi dalam memajukan revolusi Guatemala; bertemu dengan kaum revolusioner pengasingan Kuba, terutama Nico Lopez, seorang veteran penyerangan Moncada.
17 Juni: Tentara bayaran yang dilatih CIA dan dipimpin oleh Kolonel Carlos Castillo Armas menyerbu Guatemala; Guevara secara sukarela ikut berjuang mempertahankan Guatemala; Arbenz menolak mempersenjatai rakyat Guatemala.
27 Juni: Arbenz meletakkan jabatan.
Agustus: Tentara bayaran memasuki Guatemala City dan mulai membantai pendukung rejim Arbenz; Guevara mencari perlindungan ke kedutaan Argentina.
21 September: Sampai di Mexico City; selanjutnya memperoleh pekerjaan sebagai dokter di Central Hospital.
1955
16 Juni: Fidel Castro dan pejuang Moncada lainnya yang masih hidup dibebaskan dari penjara di Kuba karena tekanan kampanye pertahanan publik yang gencar.
Juni: Guevara menemui Nico Lopez, yang juga berada di Mexico City; beberapa hari kemudian Lopez mengatur pertemuan Guevara dengan Raul Castro (adik Fidel Castro).
7 Juli: Fidel Castro sampai di Meksiko dengan tujuan mengorganisir ekspedisi bersenjata ke Kuba.
Juli - Agustus: Guevara bertemu Fidel Castro; mendaftarkan diri sebagai anggota tetap ketiga dari ekspedisi gerilya; selanjutnya terlibat dalam latihan perang gerilya; pejuang Kuba memberinya nama julukan "Che", sebutan salam khas Argentina.
1956
24 Juni: Guevara ditangkap bersama 28 anggota ekspedisi lainnya oleh polisi Meksiko, termasuk Fidel Castro; Guevara dijatuhi hukuman lima puluh tujuh hari kurungan.
25 November: Delapan puluh dua pejuang, termasuk Che Guevara, berlayar ke Kuba dengan menggunakan kapal layar Granma, berangkat dari pelabuhan Tuxpan di Mexico.
30 November: Frank Pais memimpin pemberontakan di Santiago de Cuba, waktunya bersamaan dengan jadwal pendaratan Granma.
2 Desember: Granma mencapai Kuba di pantai Las Coloradas, Propinsi Oriente.
5 Desember: Pejuang-pejuang pemberontak disergap oleh tentara Batista di Alegria de Pio dan dicerai beraikan; sebagian besar gerilyawan ditangkap dan dibunuh; Guevara terluka.
20 Desember: Kelompok Guevara bergabung dengan Fidel Castro; terdapat kurang dari lusinan pejuang dalam tentara pemberontak (Rebel Army).
1957
17 Januari: Pemberontak menyerbu pos terdepan dalam serangan la Plata.
22 Januari: Tentara pemberontak menyergap tentara pemerintah di Arroyo del Infierno.
13 Maret: Pejuang-pejuang dari Revolutionary Directorate menyerbu Istana kepresidenan di Havana; serangan gagal dan sejumlah revolusioner terbunuh, termasuk Jose Antonio Echeveirra.
27-28 Mei: Serangan terhadap El Uvero berlangsung di Sierra, kemenangan utama bagi tentara pemberontak.
Juli: Tentara pemberontak membentuk pasukan kedua; Guevara dipilih untuk memimpinnya dan diusulkan menjadi komandan.
1958
9 April: Gerakan 26 Juli menyerukan pemogokan umum di seluruh Kuba; pemogokan gagal.
24 Mei: Batista melancarkan ofensif militer habis-habisan terhadap tentara pemberontak di Sierra Maestra.
Juli: Serangan terhadap El Jigue; kemenangan menentukan bagi tentara pemberontak yang menandai ofensif balik oleh tentara pemberontak.
31 Agustus: Guevara memimpin invasi pasukan dari Sierra Maestra menuju propinsi Las Villas di Kuba Tengah; beberapa hari sebelumnya Camilo Cienfuegos diperintahkan memimpin pasukan lainnya, menuju propinsi Pinar del Rio di ujung barat Kuba.
16 Oktober: Pasukan Guevara sampai di Pegunungan Escambray; menetapkan kontak dengan
kekuatan-kekuatan gerilya lainnya yang ada di sana.
Desember: Pasukan pemberontak Guevara dan Cienfuegos menguasai sejumlah propinsi Las Villas dan secara efektif telah memotong setengah pulau.
28 Desember: Pasukan Guevara mulai menyerbu Santa Clara, ibukota Las Villas.
1959
1 Januari: Batista meninggalkan Kuba pada pukul 02.00 dini hari; Junta Militer mengambil alih kekuasaan; Fidel Castro menentang Junta militer baru dan menyerukan meneruskan perjuangan; Santa Clara jatuh ke tangan pemberontak;Guevara dan Cienfuegos diperintahkan segera menuju Havana.
2 Januari: Kaum buruh Kuba menanggapi seruan Fidel Castro untuk mengadakan pemogokan umum revolusioner dan negeri menjadi lumpuh; pasukan Guevara memasuki Havana dan menduduki benteng La Cabana, bekas kubu pertahanan Batista.
5 Januari: Manuel Urrutia, calon terpilih gerakan 26 Juli, menjabat presiden.
8 Januari: Fidel Castro sampai di Havana; ratusan ribu orang mengelu-elukan memberi selamat kepadanya.
9 Februari: Guevara dinyatakan sebagai warga negara Kuba, sebagai tanda penghargaan atas sumbangsihnya bagi pembebasan Kuba.
16 Februari: Fidel Castro menjadi perdana menteri.
27 Februari: Pemerintahan revolusioner menerima rencana undang-undang penurunan tarif listrik.
6 Maret: Pemerintahan revolusioner menerima Undang-undang penurunan ongkos sewa kira-kira 30-50 %.
Maret: Pemerintahan revolusioner menghapuskan diskriminasi rasial.
17 Mei: Proklamasi Undang-undang reformasi agraria, menetapkan batas penguasaan tanah seluas maksimum 100 are dan melakukan distribusi tanah bagi petani.
12 Juni – 8 September: Guevara melakukan perjalanan ke Eropa, Afrika dan Asia; menanda tangani sejumlah persetujuan perdagangan, teknologi dan kebudayaan.
30 Juli: Mengadakan konferensi pers di Jakarta, Indonesia; Guevara menyatakan dukungannya terhadap gerakan rakyat dunia ke tiga yang berupaya melepaskan diri dari penghisapan imperialisme, termasuk Indonesia.
16-17 Juli: Castro mengundurkan diri sebagai perdana menteri karena krisis pemerintahan yang timbul dari penentangan Urrutia terhadap tindakan-tindakan revolusioner; akibatnya kekuatan massa rakyat meledak dan mendesak Urrutia untuk segera mengundurkan diri dari
jabatan presiden dan digantikan oleh Osvaldo Dorticos.
26 Juli-7 Oktober: Castro kembali menduduki pos perdana menteri.
7 Oktober: Guevara ditunjuk sebagai kepala departemen industri dari Institut Reformasi Agraria Nasional (INRA).
21 Oktober: Mengikuti upaya melancarkan pemberontakan kontra-Revolusi, Huber Matos, komandan tentara pemberontak di propinsi Camaguey, ditangkap oleh kepala staf tentara
pemberontak, Camilo Cienfuegos.
26 Oktober: Pengumuman terbentuknya milisi revolusioner nasional, yang mengiringi ribuan buruh dan petani dalam perjuangan menentang kontra revolusi.
28 Oktober: Pesawat terbang yang ditumpangi Camilio Cienfuegos jatuh dalam perjalanan kembali ke Havana; Cienfuegos tewas.
26 November: Guevara ditunjuk sebagai presiden Bank nasional, yang bertanggung jawab atas finansial Kuba.
1960
4 Maret: La Coubre, sebuah kapal perancis yang membawa persenjataan dari Belgia, meledak secara misterius di pelabuhan Havana, menewaskan 81 orang; dalam rapat massa keesokan harinya Fidel Castro menyerukan semboyan Revolusi Kuba yang terkenal itu “Patria O Muerte!” (Tanah Air atau Mati).
17 Maret: Presiden Eisenhower memerintahkan CIA untuk mulai mempersiapkan tentara pengasingan Kuba untuk menyerbu Kuba.
8 Mei: Kuba dan Uni Soviet menetapkan hubungan diplomatik.
29 Juni – 1 Juli: Pemerintahan Revolusioner menasionalisasikan kilang-kilang minyak Texaco, Esso, dan Shell mengikuti penolakan perusahaan-perusahaan tersebut terhadap kilang minyak yang dibeli oleh Kuba dari Uni Soviet.
6 Juli: Eisenhower memerintahkan mengurangi kira-kira 700.000 ton gula yang telah disepakati hendak dibeli AS dari Kuba.
9 Juli: Uni Soviet mengumumkan hendak membeli semua gula yang batal dibeli oleh AS.
6 Agustus: Sebagai jawaban atas agresi ekonomi yang dilancarkan AS terhadap Kuba, pemerintahan revolusioner mendekritkan nasionalisasi perusahaan-perusahaan besar AS di Kuba.
28 September: Fidel Castro mengumumkan tujuan pembentukan komite-komite pertahanan revolusi (CDRs) sebagai organ kewaspadaan rakyat dan mobilisasi rakyat menghadapi aktivitas kontra revolusi.
13 Oktober: Pemerintahan revolusioner menasionalisasikan bank-bank swasta asing dan dalam negeri, demikian pula 382 perusahaan industri raksasa dalam negeri.
14 Oktober: Undang-Undang Reformasi Perkotaan diterima, menasionalisasikan perumahan dan gedung-gedung; rakyat Kuba dijamin haknya untuk mendiaminya.
19 Oktober: Pemerintahan Amerika Serikat mendekritkan embargo sebagian produk terhadap perdagangan dengan Kuba.
21 Oktober: Penyatuan gerakan pemuda revolusioner ke dalam Perhimpunan Pemberontak Muda. Guevara melakukan perjalanan ke Uni Sovyet, Republik Demokrasi Jerman,
Cekoslowakia. Cina, dan Korea Utara.
24 Oktober: Pemerintahan Revolusioner menasionalisasikan perusahaan-perusahaan Amerika
Serikat yang ada di Kuba.
1961
3 Januari: Washington memutuskan hubungan diplomatik dengan Kuba.
6 Januari: Guevara mengumumkan kepada rakyat Kuba mengenai persetujuan ekonomi yang
ditandatangani dengan Uni Soviet dan negara-negara lain.
17 Januari: Pemerintah Amerika Serikat melarang warga AS untuk melakukan perjalanan ke
Kuba.
23 Februari: Kementerian Industri didirikan dengan Guevara sebagai ketuanya.
31 Maret: Presiden Kennedy menghapuskan quota gula Kuba.
15 April: Sebagai bagian awal dari invasi terencana oleh tentara bayaran yang diorganisir
Amerika, sejumlah pesawat terbang menyerang Santiago de Cuba dan Havana,
menewaskan 70 orang dan melukai 53 orang.
16 April: Pada arak-arakan massal untuk memberi penghormatan terakhir kepada korban
serangan sebelumnya, Fidel Castro memproklamasikan karakter sosialis dari revolusi Kuba; Kuba dalam keadaan siaga menghadapi serangan berikutnya.
17 April: 1.500 tentara bayaran yang diorganisasi oleh Washington menyerbu Kuba dari teluk Babi; kaum milisi revolusioner dengan serta merta memberikan perlawanan terhadap kaum kontra revolusioner tersebut; guevara dikirim untuk memimpin pasukan di propinsi Pinar
del rio.
19 April: Kelompok tentara bayaran terakhir menyerah di Playa Giron (Giron beach).
8 Agustus: Guevara menyampaikan pidato pada konferensi sosial dan ekonomi dari organisasi Negara-negara Amerika (OAS) di Punta del Este , Uruguay; dia bertindak sebagai ketua delegasi Kuba.
22 Desember: Kuba menyelesaikan kampanye pemberantasan buta huruf.
1962
31 Januari: Organisasi Negara-negara Amerika (OAS) memutuskan keanggotaan Kuba.
3 Februari: Presiden Kennedy memerintahkan embargo total perdagangan AS dengan Kuba.
4 Februari: Kuba mengeluarkan deklarasi Havana kedua sebagai jawaban kepada OAS, yang menegaskan dukungan Kuba kepada perjuangan revolusioner di seluruh Amerika.
8 Maret: Dibentuk dewan nasional dari persatuan organisasi-organisasi revolusioner, menandai langkah maju dalam pengorganisasian partai revolusioner baru yang berdasarkan pernyataan dari gerakan 26 Juli, Partai Sosialis Rakyat, dan dewan Revolusioner; Guevara
merupakan seorang anggota Dewan Nasional.
27 Agustus - 7 September: Guevara melakukan kunjungan kedua ke Uni Soviet.
22 Oktober: Presiden Kennedy membuat gara-gara “Krisis peluru kendali Kuba”; Washington melakukan blokade laut dan mengancam Uni Soviet dengan perang nuklir; Kuba menjawabnya dengan melakukan mobilisasi rakyat demi pertahanan terhadap agresi Amerika Serikat;
Guevara ditunjuk memimpin di Propinsi Pinal del Rio dalam menghadapi invasi AS
itu.
28 Oktober: Pemimpin Soviet Kruschev setuju memindahkan peluru kendali Soviet asalkan AS berjanji untuk tidak melakukan invasi terhadap Kuba.
1963
1963: Partai Persatuan Sosialis Revolusi (PURS) dibentuk melalui reorganisasi ORI; Guevara merupakan salah satu anggota Dewan Nasionalnya.
3-17 Juli: Guevara mengunjungi Aljazair, yang baru saja merdeka dibawah pemerintahan revolusioner Ahmed bin Bella.
4 Oktober: Undang-undang reformasi agraria kedua dicanangkan, yang mengatur batas penguasaan maksimum seluas 167 Are.
1964
25 Maret: Guevara berpidato di konferensi PBB tentang perdagangan dan pembangunan di Genewa, Swiss.
4 – 19 November: Mengunjungi Uni Soviet.
9 Desember: Meninggalkan Kuba untuk perjalanan keliling dunia selama tiga bulan.
14 Desember: Berpidato di sidang umum PBB di New York.
17 Desember: Meninggalkan New York menuju Afrika, dimana ia mengunjungi Aljazair, Mali, Congo (Brazzaville), Guinea, Ghana, Dahomey, Tanzania, dan Mesir.
1965
24 Februari: Menghadiri seminar ekonomi organisasi Solidaritas Afro–Asia kedua di Aljazair.
14 Maret: Kembali ke Kuba; segera setelah itu Guevara tidak pernah kelihatan.
1 April: Fidel Castro menerima surat perpisahan dari Guevara meninggalkan Kuba untuk menjalankan misi internasionalis.
1 Oktober: Partai Komunis Kuba secara resmi terbentuk.
3 Oktober: Selama rapat terbuka untuk mengumumkan Komite Sentral Partai Komunis Kuba, Fidel Castro membacakan surat Guevara.
Desember: Secara rahasia, Guevara kembali ke Kuba dari Congo, dimana ia telah mendukung kekuatan Revolusioner.
1966
3-14 Januari: Konferensi Solidaritas rakyat Tiga Benua Asia, Afrika, Amerika Latin diselenggarakan di Havana.
Juli: Guevara untuk pertama kali bertemu dengan detasement internasionalis Kuba untuk misi ke Bolivia; pertemuan diselenggarakan di propinsi Pinal de Rio.
4 November: Sampai di Bolivia dengan nama samaran.
7 November: Sampai ditempat dimana gerilya Bolivia menetapkan kemahnya; kontingen gerilya, termasuk tujuh belas dari Kuba, mencapai kekuatan puncaknya dalam banyak pertempuran.
1967
23 Maret: Aksi militer gerilya pertama dilakukan; para pejuang dengan sukses menyergap satuan tentara Bolivia.
16 April: Publikasi pesan Guevara ke tiga benua, seruan untuk “dua, tiga, banyak Vietnam” (maksudnya pesan bagi bangsa di dunia ke tiga untuk melakukan perjuangan revolusioner melawan imperialisme seperti yang dilakukan oleh rakyat Vietnam, red )
31 Juli – 10 Agustus: Organisasi Solidaritas Amerika Latin (OLAS) menyelenggarakan
konferensi di Havana; Konferensi mendukung gerakan gerilya diseluruh Amerika Latin; Guevara dipilih sebagai ketua kehormatan.
Mei – Oktober: Detasemen gerilya di Bolivia menjadi semakin terisolasi; semakin banyak menderita pukulan dari musuh; ribuan tentara Bolivia bersama penasehat-penasehat AS-nya semakin rapat mengepung.
8 Oktober: Tujuh belas gerilyawan yang tersisa disergap oleh tentara Bolivia; Guevara menderita luka serius dan ditangkap.
9 Oktober: Guevara dibunuh setelah penangkapnya melakukan konsultasi dengan pemerintahan Bolivia dan Washington.
15 Oktober: Fidel Castro membenarkan kematian Guevara dan menyatakan tiga hari berkabung di seluruh Kuba; 8 Oktober ditetapkan sebagai hari kepahlawanan Gerilya.
18 Oktober: Fidel Castro menyampaikan pidato peringatan untuk Guevara di Plaza revolusi Havana yang dihadiri oleh ratusan ribu massa.
Sumber:
http://www.marxist.org
http://id.wikipedia.org (Foto)














